Gampang Cipta Cerpen (1)

Ingin belajar mencipta cerpen? Gampang!

Jangan pernah mengatakan, “Ah, aku nggak punya bakat nulis cerpen!”

Bakat nomor kesekian. Nomor satu, kemauan! Nomor dua, tidak pernah putus asa!

Jika Anda baru belajar mencipta cerita pendek, hal-hal di bawah ini dapat Anda manfaatkan:

A. Penggarapan Bahasa Cerpen

Mula-mula yang harus digarap adalah bahasa cerpen, karena daya tarik pertama cerpen pada gaya penuturan bahasanya. Bahasa cerpen yang menarik bermula dari penggarapan bahasa imajis (menimbulkan daya bayang). Penggarapan imajis yang paling mudah dengan cara pendeskripsian (penggambaran).Cara tersebut berusaha menampilkan objek cerita sehidup-hidupnya dan memunculkan kesan citraan indera dan perasaan yang mendalam. Penggunaan majas (gaya bahasa; plastik bahasa) akan memperkuat kesan itu.

Contoh-contoh pendeskripsian:

Lanjutkan membaca

Penggunaan Kata Ganti “aku” yang Kurang Tepat

Pada suatu hari saya mendengar percakapan dua orang murid saat istirahat sekolah. Kurang lebih percakapan tersebut begini:

Dini      : “Tik, kamu jadi nggak ke rumah aku nanti?”

Titik     : “Bagaimana, ya? Seminggu yang lalu kan sudah? Gantian kamu ke  rumah aku.”

Dini      : “Rumah aku lebih dekat. Rumah kamu kan jauh.”

Titik     : “Tapi kamu kan belum pernah ke rumah aku?”

Dini      : “Oke, deh. Nanti aku ke rumah kamu.”

Lanjutkan membaca

Pokok-pokok Keaktoran

AKTING

  1. Seni atau profesi berperan di atas pentas, televisi, atau film.
  2. Gambaran perwatakan dramatik, bersifat emosional dan intelektual yang dinyatakan dengan suara dan laku (dengan mimik, gerak, dan suara).

BAHAN BAGI AKTOR

  1. mimik, pernyataan atau perubahan gerak-gerik muka: mata, mulut, bibir, hidung, kening
  2. plastik, cara bersikap dan gerakan-gerakan tubuh
  3. diksi, cara penggunaan suara/ucapan

Lanjutkan membaca

Kepelatihan Seni Teater

  1. Kompetensi Dasar: Melatih Kemampuan Berkonsentrasi
  2. Indikator Pencapaian: Mampu berkonsentrasi dengan menggunakan pancaindera dan perasaan.
  3. Materi Pokok: Konsentrasi indera penglihatan; Konsentrasi berbagai perasaan, misalnya: gembira, sedih, haru, kecewa, bangga, sayang, yakin, dan lain-lainnya.
  4. Contoh-contoh Instruksi:

Melatih Konsentrasi dengan Indera Penglihatan:

Lanjutkan membaca

Kalimat Tanya yang Tidak Efektif

Kita memiliki kaidah atau aturan penggunaan bahasa yang efektif. Artinya, dalam menggunakan bahasa, kita harus mempertimbangkan ekonomis bahasa (hemat dan padat)  tetapi maksud yang disampaikan sudah benar dan tepat. Kita harus menghindarkan penggunaan kata-kata yang tidak perlu. Penggunaan bahasa efektif tidak hanya untuk bahasa tulis, tetapi juga untuk bahasa lisan. Termasuk ketika kita menggunakan kalimat tanya. Khusus kali ini kita soroti penggunaan bentuk –nya yang tidak efektif dalam kalimat tanya.

Berikut ini contoh-contoh kalimat tanya yang sering kita dengar  sehari-hari:

Lanjutkan membaca

Amblas dan Ambles

Sering kita baca atau kita dengar berita di surat kabar atau televisi penggunaan kata amblas dalam berita tentang kondisi suatu jalan. Kita menjadi bertanya-tanya. Mana yang benar, amblas atau ambles?

Bandingkanlah penggunaan dua kata tersebut dalam kalimat-kalimat berikut ini!

(1)   Beberapa bagian jalan itu amblas, sehingga mengganggu kelancaran lalu lintas.

Lanjutkan membaca

Konsep Dasar Pembelajaran Kreasi Seni Teater di SMP

Pada umumnya pembelajaran Seni Teater di SMP terdiri atas dua aspek yaitu aspek apresiasi dan kreasi. Namun demikian, karena keterbatasan SDM khususnya guru, lebih banyak aspek apresiasi yang disampaikan. Kondisi itu disebabkan oleh latar belakang pendidikan guru pengajar mata pelajaran Seni Budaya itu bukan Pendidikan Seni Teater. Padahal sebagai kategori pembelajaran keterampilan, Seni Teater mengutamakan aspek kreasi.
Berdasarkan kondisi tersebut, pada kesempatan ini perlulah dibahas konsep-konsep dasar pembelajaran kreasi Seni Teater, khususnya di SMP yang guru pengajar Seni Budayanya bukan berlatar Pendidikan Seni Teater. Konsep dasar ini dapat digunakan sebagai acuan awal atau minimal sebagai gambaran dasar untuk mengenalkan pembelajaran kreasi Seni Teater kepada peserta didik.

Lanjutkan membaca

Wabah Singkatan

Mungkin istilah “wabah” dalam uraian ini kurang tepat. Namun saya bermaksud menunjukkan bahwa persoalan yang akan saya kemukakan ini sudah menjadi “gejala negatif” yang melanda para pengguna bahasa Indonesia secara tertulis. Berdasarkan pengalaman saya mengajar di beberapa sekolah di beberapa kota dan pengamatan saya di setiap lingkungan tempat saya tinggal, sangat membuktikan menggejalanya wabah  tersebut. Persoalan tersebut berkaitan dengan penggunaan singkatan yang memprihatinkan dan perlu mendapat perhatian untuk dicegah.

Beberapa contoh berikut ini saya kutip dari catatan pelajaran milik murid-murid saya:

Lanjutkan membaca

Ketika Sastra dan Budaya Luhur Terpinggirkan

Suatu saat, suatu saat, dan suatu saat lagi saya dihantui oleh kecemasan. Kecemasan saya itu bukan tanpa alasan.Hampir tiap hari saya menyaksikan kenyataan bahwa kehidupan semakin dikuasai oleh pertimbangan-pertimbangan yang mendudukkan uang di singgasana kekaisaran. Uang jadi raja segala-galanya.

Pertimbangan-pertimbangan serba uang telah mempengaruhi pola pikir dan pola rasa manusia. Manusia yang pada mulanya berperikemanusiaan berubah menjadi berperikeuangan. Manusia yang semula bermata nurani berubah menjadi bermata uang. Pikir dan rasa yang ada dalam diri manusia yang semula merupakan satu sinergi harmonis, kini keduanya menjadi musuh bebuyutan dalam perang terbuka.

Lanjutkan membaca

Strategi Peserta Didik Mewujudkan Kecerdasan Komprehensif dan Kompetitif

Interaksi pendidik (guru) dan peserta didik (murid) yang dapat menunjang pelaksanaan misi pendidikan adalah dengan model kemitraan. Pendidik dan peserta didik merupakan mitra dalam mewujudkan insan yang cerdas komprehensif dan kompetitif. Sebagai mitra, pendidik dan peserta didik perlu menjalin komunikasi sosial  yang akrab, kerja sama positif , kreatif, produktif, dan inovatif,  serta sikap evaluatif timbal balik.

Pada umumnya kendala utama dalam kemitraan pendidik dan peserta didik adalah faktor psikologis. Ekses budaya kolonialisme dan paternalisme yang telah berurat berakar di Indonesia menempatkan interaksi pendidik dan peserta didik pada kesenjangan posisi sosial. Pendidik lebih banyak menempatkan dirinya sebagai sosok yang “berkuasa” atas peserta didiknya serta “serba benar” dan “serba pintar” di mata peserta didiknya.  Sebaliknya peserta didik lebih banyak menempatkan dirinya sebagai sosok “penurut” kepada pendidiknya serta “serba kurang” dan “serba perlu dituntun terus-menerus” oleh pendidiknya. Kondisi yang demikian itu mengakibatkan komunikasi sosial kedua pihak kaku. Akibatnya pula, kegiatan belajar-mengajar mengkondisikan pendidik lebih aktif daripada peserta didik, bahkan sebagian besar peserta didik pasif. Kepasifan itu akan menghambat upaya kerja sama positif, kreatif, produktif, dan inovatif. Kegiatan saling mengevaluasi pun tidak akan terlaksana dengan baik.

Lanjutkan membaca