<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Ustadji Pantja Wibiarsa Kreasi</title>
	<atom:link href="http://ustadjipw.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://ustadjipw.wordpress.com</link>
	<description>Mengepakindahkan Sayap Kreasi</description>
	<lastBuildDate>Mon, 10 Aug 2009 14:01:58 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='ustadjipw.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://0.gravatar.com/blavatar/085270da06329070fc92187e428a53a5?s=96&#038;d=http%3A%2F%2Fs2.wp.com%2Fi%2Fbuttonw-com.png</url>
		<title>Ustadji Pantja Wibiarsa Kreasi</title>
		<link>http://ustadjipw.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://ustadjipw.wordpress.com/osd.xml" title="Ustadji Pantja Wibiarsa Kreasi" />
	<atom:link rel='hub' href='http://ustadjipw.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Gampang Cipta Cerpen (1)</title>
		<link>http://ustadjipw.wordpress.com/2009/08/08/gampang-cipta-cerpen-1/</link>
		<comments>http://ustadjipw.wordpress.com/2009/08/08/gampang-cipta-cerpen-1/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 08 Aug 2009 11:30:32 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ustadjipw</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cipta Cerpen]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ustadjipw.wordpress.com/?p=49</guid>
		<description><![CDATA[Ingin belajar mencipta cerpen? Gampang! Jangan pernah mengatakan, &#8220;Ah, aku nggak punya bakat nulis cerpen!&#8221; Bakat nomor kesekian. Nomor satu, kemauan! Nomor dua, tidak pernah putus asa! Jika Anda baru belajar mencipta cerita pendek, hal-hal di bawah ini dapat Anda manfaatkan: A. Penggarapan Bahasa Cerpen Mula-mula yang harus digarap adalah bahasa cerpen, karena daya tarik [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ustadjipw.wordpress.com&amp;blog=8865519&amp;post=49&amp;subd=ustadjipw&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Ingin belajar mencipta cerpen? Gampang!</p>
<p>Jangan pernah mengatakan, &#8220;Ah, aku <em>nggak </em>punya bakat nulis cerpen!&#8221;</p>
<p>Bakat nomor kesekian. Nomor satu, kemauan! Nomor dua, tidak pernah putus asa!</p>
<p>Jika Anda baru belajar mencipta cerita pendek, hal-hal di bawah ini dapat Anda manfaatkan:</p>
<p>A. Penggarapan Bahasa Cerpen</p>
<p>Mula-mula yang harus digarap adalah bahasa cerpen, karena daya tarik pertama cerpen pada gaya penuturan bahasanya. Bahasa cerpen yang menarik bermula dari penggarapan bahasa imajis (menimbulkan daya bayang). Penggarapan imajis yang paling mudah dengan cara pendeskripsian (penggambaran).Cara tersebut berusaha menampilkan objek cerita sehidup-hidupnya dan memunculkan kesan citraan indera dan perasaan yang mendalam. Penggunaan majas (gaya bahasa; plastik bahasa) akan memperkuat kesan itu.</p>
<p>Contoh-contoh pendeskripsian:</p>
<p><span id="more-49"></span></p>
<p>Deskripsi suasana:</p>
<p>Senja sunyi mulai turun pelahan-lahan. Sejumput semburat cahaya jingga masih menyisakan           kedukaan di pojok langit barat. Sedikit demi sedikit punggung-punggung bukit berubah berwarna coklat kelabu karena disentuhi sang waktu. Angin memulai bersenandung dingin.</p>
<p>Deskripsi kondisi:</p>
<p>Anis semalaman tak dapat tidur. Matanya tampak sembab dan merah. Tubuhnya sangat letih. Seluruh persendian terasa ngilu. Luka cambukan di sekujur tubuhnya menganga, merah membiru menyimpan bekuan darah.</p>
<p>Deskripsi tingkah laku:</p>
<p>Sunti berjalan terseok-seok menyaruk-nyaruk gundukan pasir pantai. Ia menatap cakrawala di kejauhan dengan kekosongan hatinya. Beberapa saat kemudian ia berdiri lunglai di batu karang besar. Jemarinya gemetar merenggut-renggut rambut panjang kusutnya.</p>
<p>Deskripsi tempat:</p>
<p>Ia tebarkan pandangan ke sekeliling. Ruangan bawah tanah tempat ia disekap tampak sangat sempit. Kira-kira hanya dua kali dua meter, tetapi tingginya kira-kira mencapai tujuh meter. Di atap terdapat lubang angin terbuat dari jeruji besi. Dindingnya lembab. Pintu besinya sudah berkarat.</p>
<p>B. Penggarapan Isi Cerpen</p>
<p>Cara penggarapan isi cerpen sangat menentukan kualitas cerpen. Penggarapan isi dapat melalui pilihan atas tokoh sentral, konflik (pertentangan), pandangan hidup tokoh cerita, dan plot (alur/jalan cerita).</p>
<p>1. Tokoh sentral cerita</p>
<p>Untuk menumbuhkan daya tarik terhadap tokoh sentral, dapat dipilih tokoh yang unik, yang lain daripada yang lain, yang istimewa. Keunikan/kelainan/keistimewaan itu dimuatkan dalam tingkah laku ataupun kondisi batinnya. Contoh:</p>
<ol>
<li>Malam itu adalah malam ketiga Rinti menatap tajam pada rembulan menggantung di sudut langit. Saat begitu ia selalu teringat malapetaka yang menimpa kedua orang tuanya. Ayah dan ibunya mengalami kecelakaan mobil, terperosok ke dalam jurang, gara-gara bertengkar tentang rembulan. Ya, rembulan itulah penyebabnya, pekiknya. Maka, ia mengumpat-umpati rembulan dengan sumpah serapahnya sambil mengacung-ngacungkan kepalan tangannya. “Rembulan terkutuk…!”</li>
<li>Sejak membunuh anjing kesayangan adiknya, Gombloh merasa ada seekor anjing buas bertengger di punggungnya, mencengkeramkan kuku-kuku yang tajam ke bahu dan lehernya. Hewan itu menggeram-geram membujuknya untuk melakukan perbuatan-perbuatan amoral. Kali ini, hewan biadab itu merayunya untuk membeli dan menggunakan narkotika dan obat-obat terlarang.</li>
</ol>
<p>2. Konflik (pertentangan)</p>
<p>Konflik merupakan ciri khas cerpen. Konflik dapat digarap melalui bahasa (gaya penuturan) dan tokoh cerita.  Gaya penuturan konflik dapat menggunakan majas pertentangan. Contoh:</p>
<p>Rini merasakan kegaduhan yang luar biasa ketika tiba di taman yang sangat sepi itu. Sementara angin yang lembut terasa menampar wajahnya. Masih terbayang pula tamparan tangan ayahnya yang keras kemarin malam di pipi kanan kirinya yang tak akan pernah ia rasakan sakit. Namun hatinya sangat sakit. Betapapun begitu, ia masih menghormati ayahnya sebagai lelaki yang ia benci.</p>
<p>Sedangkan konflik pada tokoh cerita dapat digarap berkonflik dengan: tokoh cerita lainnya; alam sekitarnya; kondisi masyarakat sekitarnya; dirinya sendiri; bahkan konflik dengan Tuhan. Contoh:</p>
<p>Sungguh, Rini masih menghormati ayah tirinya yang sangat ia benci. Masih terngiang jelas kata-kata pedas yang terlontar dari mulut ayahnya, “Saya tak pernah menyuruhmu tinggal di rumah ini. Saya juga tak pernah menganjurkanmu untuk bertahan hidup di kota ini. Jika kamu sudah tak betah di sini, kenapa tak segera angkat kaki dari sini? Jika kamu sudah tak mampu bertahan hidup, kenapa tak kamu bayangkan saja sebuah kematian?” Sungguh, kata-kata yang sangat tak pantas. Maka, ia berani menudingkan telunjuknya tepat ke muka lelaki itu sambil berteriak lantang, “Baik! Aku akan pergi!”</p>
<p>Konflik batin yang terjadi pada diri tokoh cerita sendiri juga menarik. Konflik ini melibatkan pikiran dan perasaan tokoh cerita yang sangat ruwet. Contoh:</p>
<p>Kerinduanku kepadanya yang mendesak-desak semakin membuatku benci kepadanya. Kenapa rasa rindu ini begitu menyiksa? Rasa rindu yang muncul justru dari rasa cintaku kepadanya. Cinta yang indah dan merindu. Cinta yang menyiksa dan kubenci. Ia membayang, tak dapat kurengkuh, karena jauh, bahkan menjauh. Kenapa aku tak bisa pasrah dan tenang? Aku benci kepada diriku sendiri. Namun tetap kucoba setia mencintainya, hingga aku belajar mencintai diriku sendiri.</p>
<p>3. Pandangan hidup tokoh cerita</p>
<p>Kualitas isi cerpen juga bergantung pada pandangan hidup yang dipaparkan. Pandangan hidup ini menunjukkan kadar intelektualitas cerpen. Pemaparan pandangan hidup itu dapat dimuatkan pada tokoh cerita. Contoh:</p>
<p>Grandong mencibiriku. Ia menyerangku dengan hinaan, “Huh! Kau masih ingusan, apa sih pengertianmu tentang cinta? Pengalamanmu hanya seujung kuku bila dibanding pengalamanku!”</p>
<p>Dengan tenang kutatap lurus ke bola matanya, sambil senyum kujawab hinaannya, “Kuakui aku masih kurang pengalaman. Namun jika kautanyakan kepadaku tentang pengertian cinta, kucoba menjawabnya. Bagiku cinta adalah kesetiaan dan ketulusan, seperti matahari menerangi bumi, seperti bulan meniriskan cahayanya di malam hari. Cinta adalah kebersamaan, saling memberi dan menerima, seperti bunga dan kupu-kupu.”</p>
<p>Pandangan hidup dapat pula digarap tidak melalui dialog tokoh cerita, tetapi melalui deskripsi tingkah laku/sikap tokoh cerita. Contoh:</p>
<p>Seusai menjalankan ibadah salat, Murni menemukan percikan cahaya dalam batinnya. Percikan cahaya itu adalah keyakinan bahwa kepasrahan dan ketakwaan itu sumber ketenangan batinnya. Dengan ketenangan batin itu ia dapat lebih mengkonsentrasikan diri pada belajarnya. Menyerap ilmu pengetahuan dan menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.</p>
<p>4. Plot (alur/jalan cerita)</p>
<p>Plot digarap sebagai satu rangkaian peristiwa yang menunjukkan adanya sebab-akibat.. Plot lurus, sorot balik, ataupun campuran sudah menjadi hal yang umum. Yang perlu diperhatikan adalah cara mengolah plot itu agar menggelitik ataupun mengejutkan. Menggelitik berarti menimbulkan serentetan pertanyaan atau membuat penasaran pembaca. Mengejutkan berarti terdapat bagian-bagian cerita yang tidak disangka-sangka sebelumnya atau dapat mengecoh pembaca.</p>
<p>Contoh plot yang menggelitik (dalam bentuk ringkas cerita/sinopsis):</p>
<p>Seorang gadis remaja bernama Gadis sedang berusaha mencari siapa sesungguhnya perempuan yang melahirkannya ke dunia. Sejak kecil ia diasuh oleh ayahnya. Menurut pengakuan ayahnya, ibunya meninggal saat melahirkannya. Ketika ia tanyakan makam ibunya, jawaban ayahnya berbelit-belit. Sampai suatu saat ia bertemu dengan bidan yang membantu ibunya melahirkannya. Bidan itu bercerita bahwa ibu Gadis meninggal saat melahirkan Gadis. Jenazah ibunya dimakamkan di desa kelahiran ibunya. Sejak ibunya meninggal, hubungan ayahnya dengan keluarga ibunya terputus. Karena cerita bidan itu, Gadis pergi ke bekas desa kelahiran ibunya yang berjarak sekitar tiga ratus kilometer dari tempat tinggal Gadis. Di sana ia dapat bertemu dengan neneknya dan memperoleh keterangan bahwa ibunya turut bertransmigrasi ke Kalimantan. Ternyata ibunya belum meninggal. Jenazah yang dulu dimakamkan itu adalah jenazah buliknya. Dari neneknya pula, Gadis memperoleh keterangan bahwa ketika masih bayi, Gadis diperebutkan oleh ibunya dan buliknya. Oleh neneknya, Gadis disodori foto ibunya dan buliknya. Gadis merasa ia lebih mirip buliknya daripada mirip ibunya. Siapa sesungguhnya ibu kandung Gadis?</p>
<p>Contoh plot yang mengejutkan (dalam bentuk ringkas/sinopsis):</p>
<p>Gadis dikejar-kejar oleh seorang lelaki. Menurut seorang perempuan yang mengaku kenal dengan lelaki itu, lelaki itu mengejar-ngejar Gadis karena ingin menikahinya. Gadis yang selama ini dikenal sebagai anak yatim itu segera mengadukan peristiwa yang dialami kepada ibunya. Setelah pengaduan itu, pada saat-saat ibunya punya waktu luang, ibunya selalu mengawalnya ke mana pun ia pergi. Ketika sedang dikawal, Gadis tak dikejar-kejar lelaki itu. Namun ketika sedang tak dikawal, Gadis dikejar-kejar lelaki itu, bahkan dikejar sampai di alam mimpi.  Suatu saat terbukalah rahasia bahwa lelaki itu sesungguhnya adalah ayah kandung Gadis.</p>
<p>Selamat mulai mencipta cerpen! Nantikan Gampang Cipta Cerpen (2)!</p>
<p style="text-align:right;"><strong>(Ustadji Pantja Wibiarsa, Sanggar Kalimasada Kutoarjo, Purworejo, Jawa Tengah)</strong></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/ustadjipw.wordpress.com/49/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/ustadjipw.wordpress.com/49/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/ustadjipw.wordpress.com/49/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/ustadjipw.wordpress.com/49/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/ustadjipw.wordpress.com/49/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/ustadjipw.wordpress.com/49/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/ustadjipw.wordpress.com/49/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/ustadjipw.wordpress.com/49/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/ustadjipw.wordpress.com/49/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/ustadjipw.wordpress.com/49/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/ustadjipw.wordpress.com/49/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/ustadjipw.wordpress.com/49/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/ustadjipw.wordpress.com/49/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/ustadjipw.wordpress.com/49/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ustadjipw.wordpress.com&amp;blog=8865519&amp;post=49&amp;subd=ustadjipw&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ustadjipw.wordpress.com/2009/08/08/gampang-cipta-cerpen-1/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/80f2e60f6de9b88cd537419869163eb8?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">ustadjipw</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Penggunaan Kata Ganti &#8220;aku&#8221; yang Kurang Tepat</title>
		<link>http://ustadjipw.wordpress.com/2009/08/08/penggunaan-kata-ganti-aku-yang-kurang-tepat/</link>
		<comments>http://ustadjipw.wordpress.com/2009/08/08/penggunaan-kata-ganti-aku-yang-kurang-tepat/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 08 Aug 2009 10:17:56 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ustadjipw</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bahasa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ustadjipw.wordpress.com/?p=42</guid>
		<description><![CDATA[Pada suatu hari saya mendengar percakapan dua orang murid saat istirahat sekolah. Kurang lebih percakapan tersebut begini: Dini      : “Tik, kamu jadi nggak ke rumah aku nanti?” Titik     : “Bagaimana, ya? Seminggu yang lalu kan sudah? Gantian kamu ke  rumah aku.” Dini      : “Rumah aku lebih dekat. Rumah kamu kan jauh.” Titik     : “Tapi kamu [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ustadjipw.wordpress.com&amp;blog=8865519&amp;post=42&amp;subd=ustadjipw&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Pada suatu hari saya mendengar percakapan dua orang murid saat istirahat sekolah. Kurang lebih percakapan tersebut begini:</p>
<p>Dini      : “Tik, kamu jadi <em>nggak </em>ke <em>rumah aku</em> nanti?”</p>
<p>Titik     : “Bagaimana, ya? Seminggu yang lalu kan sudah? Gantian kamu ke  <em>rumah aku</em>.”</p>
<p>Dini      : “<em>Rumah aku</em> lebih dekat. <em>Rumah kamu</em> kan jauh.”</p>
<p>Titik     : “Tapi kamu kan belum pernah ke <em>rumah aku</em>?”</p>
<p>Dini      : “Oke, <em>deh</em>. Nanti aku ke <em>rumah kamu</em>.”</p>
<p><span id="more-42"></span></p>
<p>Percakapan dua murid itu lancar-lancar saja karena keduanya sudah memahami kalimat-kalimat yang mereka ucapkan. Secara komunikatif, percakapan tersebut tidak menimbulkan masalah. Namun ketika kita ditanya tentang kebaikan dan kebenaran bahasa yang digunakan dalam percakapan tersebut, kita dapat menemukan kesalahan.</p>
<p>Di mana letak kesalahannya? Ya, betul. Penggunaan <em>rumah aku </em>salah. Untuk menyatakan kepemilikan diri sendiri atau yang memiliki sesuatu itu “orang pertama tunggal” <em>aku</em>, dalam bahasa Indonesia dikenal bentuk klitika <em>–ku</em>. Jadi bentuk <em>rumah aku </em>seharusnya diganti menjadi <em>rumahku</em>. Demikian juga penggunaan bentuk <em>rumah kamu</em>. Jika kata <em>kamu</em> digunakan untuk menyatakan kepemilikan “orang kedua tunggal”, sebaiknya digunakan bentuk klitika <em>–mu</em>. Jadi bentuk <em>rumah kamu</em> sebaiknya diganti menjadi <em>rumahmu</em>. Juga bentuk <em>rumah dia </em>seharusnya menggunakan klitika <em>–nya </em>sebagai makna kepemilikan untuk “orang ketiga tunggal”, menjadi <em>rumahnya</em>.</p>
<p>Sedangkan pada kata ganti <em>saya</em>, untuk menyatakan kepemilikan tidak dikenal bentuk klitikanya, sehingga bentuk <em>rumah saya </em>merupakan bentuk yang sudah tepat. Demikian pula bentuk <em>rumah kita</em>, <em>rumah kami</em>, dan <em>rumah mereka</em>.</p>
<p style="text-align:right;"><strong>(Ustadji Pantja Wibiarsa, Guru Bahasa Indonesia SMP Negeri 23 Purworejo, Jawa Tengah)</strong></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/ustadjipw.wordpress.com/42/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/ustadjipw.wordpress.com/42/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/ustadjipw.wordpress.com/42/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/ustadjipw.wordpress.com/42/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/ustadjipw.wordpress.com/42/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/ustadjipw.wordpress.com/42/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/ustadjipw.wordpress.com/42/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/ustadjipw.wordpress.com/42/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/ustadjipw.wordpress.com/42/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/ustadjipw.wordpress.com/42/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/ustadjipw.wordpress.com/42/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/ustadjipw.wordpress.com/42/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/ustadjipw.wordpress.com/42/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/ustadjipw.wordpress.com/42/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ustadjipw.wordpress.com&amp;blog=8865519&amp;post=42&amp;subd=ustadjipw&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ustadjipw.wordpress.com/2009/08/08/penggunaan-kata-ganti-aku-yang-kurang-tepat/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/80f2e60f6de9b88cd537419869163eb8?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">ustadjipw</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Pokok-pokok Keaktoran</title>
		<link>http://ustadjipw.wordpress.com/2009/08/07/pokok-pokok-keaktoran/</link>
		<comments>http://ustadjipw.wordpress.com/2009/08/07/pokok-pokok-keaktoran/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 07 Aug 2009 08:50:45 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ustadjipw</dc:creator>
				<category><![CDATA[Seni Teater]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ustadjipw.wordpress.com/?p=40</guid>
		<description><![CDATA[AKTING Seni atau profesi berperan di atas pentas, televisi, atau film. Gambaran perwatakan dramatik, bersifat emosional dan intelektual yang dinyatakan dengan suara dan laku (dengan mimik, gerak, dan suara). BAHAN BAGI AKTOR mimik, pernyataan atau perubahan gerak-gerik muka: mata, mulut, bibir, hidung, kening plastik, cara bersikap dan gerakan-gerakan tubuh diksi, cara penggunaan suara/ucapan LAKU DRAMATIS [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ustadjipw.wordpress.com&amp;blog=8865519&amp;post=40&amp;subd=ustadjipw&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>AKTING</p>
<ol>
<li>Seni      atau profesi berperan di atas pentas, televisi, atau film.</li>
<li>Gambaran      perwatakan dramatik, bersifat emosional dan intelektual yang dinyatakan      dengan suara dan laku (dengan mimik, gerak, dan suara).</li>
</ol>
<p>BAHAN BAGI AKTOR</p>
<ol>
<li>mimik, pernyataan atau perubahan gerak-gerik muka:      mata, mulut, bibir, hidung, kening</li>
<li>plastik, cara bersikap dan gerakan-gerakan tubuh</li>
<li>diksi, cara penggunaan suara/ucapan</li>
</ol>
<p><span id="more-40"></span></p>
<p>LAKU DRAMATIS</p>
<p>Perbuatan sinergis ekspresif dari emosi dan kecerdasan.</p>
<ol>
<li>Pengolahan perasaan, meliputi juga insting, naluri,      dan nurani.</li>
<li>Pengolahan      kecerdasan dengan bahan pengalaman dan ilmu pengetahuan</li>
<li>Pengolahan      iman dan takwa berdasarkan pemahaman kodrati manusia sebagai ciptaan      Allah.</li>
</ol>
<p>PEMBINAAN TUBUH</p>
<ol>
<li>Pengolahan gerak dasar (gerak umum keseharian      terstruktur, misalnya dimulai pada gerak jari-jari tangan, dilanjutkan      gerak pergelangan tangan, berlanjut pada gerak siku tangan, dan      seterusnya)</li>
<li>Pengolahan gerak muatan (gerak umum keseharian      dengan muatan penghayatan makna, misalnya minum dengan muatan perasaan      kepuasan)</li>
<li>Pengolahan gerak garapan (gerak detil dengan muatan      penghayatan makna)</li>
</ol>
<p>PEMBINAAN SUARA</p>
<ol>
<li>Pengolahan suara pada lafal, volume suara, intonasi      suara, tempo suara, tekanan suara, dan warna suara</li>
<li>Pengolahan suara dengan perwatakan tertentu</li>
</ol>
<p>PEMBINAAN WATAK</p>
<ol>
<li>Eksplorasi pengalaman diri pribadi, pengalaman      lahiriah dan pengalaman batiniah.</li>
<li>Observasi tingkah laku orang lain termasuk pada      proses gejalanya.</li>
<li>Pemahaman terhadap detil gejala-gejala jiwa manusia      termasuk latar belakangnya.</li>
<li>Visualisasi      imitasi (perbuatan meniru dari proses awal hingga akhir)</li>
<li>Evaluasi detil</li>
</ol>
<p style="text-align:right;"><strong>(Dirangkum oleh Ustadji Pantja Wibiarsa dari berbagai sumber dan pengalaman pribadi)</strong></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/ustadjipw.wordpress.com/40/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/ustadjipw.wordpress.com/40/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/ustadjipw.wordpress.com/40/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/ustadjipw.wordpress.com/40/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/ustadjipw.wordpress.com/40/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/ustadjipw.wordpress.com/40/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/ustadjipw.wordpress.com/40/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/ustadjipw.wordpress.com/40/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/ustadjipw.wordpress.com/40/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/ustadjipw.wordpress.com/40/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/ustadjipw.wordpress.com/40/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/ustadjipw.wordpress.com/40/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/ustadjipw.wordpress.com/40/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/ustadjipw.wordpress.com/40/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ustadjipw.wordpress.com&amp;blog=8865519&amp;post=40&amp;subd=ustadjipw&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ustadjipw.wordpress.com/2009/08/07/pokok-pokok-keaktoran/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/80f2e60f6de9b88cd537419869163eb8?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">ustadjipw</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Kepelatihan Seni Teater</title>
		<link>http://ustadjipw.wordpress.com/2009/08/07/kepelatihan-seni-teater/</link>
		<comments>http://ustadjipw.wordpress.com/2009/08/07/kepelatihan-seni-teater/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 07 Aug 2009 08:30:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ustadjipw</dc:creator>
				<category><![CDATA[Seni Teater]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ustadjipw.wordpress.com/?p=35</guid>
		<description><![CDATA[Kompetensi Dasar: Melatih Kemampuan Berkonsentrasi Indikator Pencapaian: Mampu berkonsentrasi dengan menggunakan pancaindera dan perasaan. Materi Pokok: Konsentrasi indera penglihatan; Konsentrasi berbagai perasaan, misalnya: gembira, sedih, haru, kecewa, bangga, sayang, yakin, dan lain-lainnya. Contoh-contoh Instruksi: Melatih Konsentrasi dengan Indera Penglihatan: Duduklah dengan tenang; kaki bersila; punggung telapak tangan diletakkan di atas lutut atau posisi tengadah; posisi [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ustadjipw.wordpress.com&amp;blog=8865519&amp;post=35&amp;subd=ustadjipw&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<ol>
<li>Kompetensi Dasar: Melatih Kemampuan Berkonsentrasi</li>
<li>Indikator Pencapaian: Mampu berkonsentrasi dengan menggunakan pancaindera dan perasaan.</li>
<li>Materi Pokok: Konsentrasi indera penglihatan; Konsentrasi berbagai perasaan, misalnya: gembira, sedih, haru, kecewa, bangga, sayang, yakin, dan lain-lainnya.</li>
<li>Contoh-contoh Instruksi:</li>
</ol>
<p>Melatih Konsentrasi dengan Indera Penglihatan:</p>
<p><span id="more-35"></span></p>
<ol>
<li>Duduklah dengan tenang; kaki bersila; punggung telapak tangan diletakkan di atas lutut atau posisi tengadah; posisi tubuh tegak; rileks, tidak ada otot atau urat di tubuh yang kaku atau tegang, rileks saja; pandangan mata lurus ke depan; napas teratur; perasaan dan pikiran tidak ke mana-mana, cukup hanya konsentrasi ke kegiatan latihan ini; dan yang sangat penting kita berpasrah diri kepada Tuhan Yang Maha Pengasih dan Penyayang;</li>
<li>Pelan-pelan pandangan mata beralih ke suatu benda atau suatu pemandangan yang Anda pilih yang terletak atau terhampar di hadapan Anda.</li>
<li>Amatilah secara teliti benda yang Anda pilih itu, bentuknya, kondisinya, warnanya, bagian-bagiannya, dari atas ke bawah, kembali lagi dari bawah ke atas, dari kanan ke kiri, kembali lagi dari kiri ke kanan, dari sudut ke sudut.</li>
<li>Jika Anda memilih mengamati hamparan suatu pemandangan yang luas, amatilah satu per satu benda-benda yang terdapat dalam lingkup pemandangan itu, bentuknya, kondisinya, warnanya, bagian-bagiannya, dari atas ke bawah, dari bawah ke atas, dari kanan ke kiri, dari kiri ke kanan, dari sudut ke sudut.</li>
<li>Amatilah terus secara teliti sambil dalam batin      menyusun kata-kata atau kalimat       berdasarkan hasil pengamatan Anda. Namun kalimat Anda itu belum atau tidak menggambarkan kesan perasaan atau pikiran Anda. Jadi hanya berdasarkan pengamatan indera penglihatan. Misalnya:
<ul>
<li>Aku menatap keluasan langit biru dengan hiasan       awan seputih kapas.</li>
<li>Kupandang dinding berwarna putih dengan beberapa       noktah hitamnya.</li>
<li>Saya mengamati pucuk pohon dengan daun-daunnya       yang menari gemulai ditiup angin.</li>
<li>Debu-debu        di hadapanku menghiasi lantai dan tanah yang menghampar.</li>
<li>Sekuntum bunga disangga tangkainya membekas dalam       tatapan mataku.</li>
</ul>
</li>
<li>Susunlah kalimat-kalimat sesuai dengan hasil pengamatan      Anda.  Susunlah dengan menggunakan      kata-kata yang indah. Satu kalimat.      Dua kalimat. Tiga kalimat. Empat kalimat. Atau lima kalimat.</li>
<li>Jika kalimat sudah tersusun, bersiaplah untuk mengucapkan kalimat-kalimat itu dengan volume suara yang keras, pengucapannya jelas, dan intonasi yang bervariasi.</li>
<li>Ucapkanlah      bersama-sama. Ya. Ucapkan!</li>
<li>Ucapkanlah      sekali lagi. Ya. Ucapkan!</li>
</ol>
<p>Penggabungan dengan Konsentrasi Perasaan:</p>
<ol>
<li>Setelah Anda mengucapkan kalimat-kalimat tadi, sekarang hubungkanlah kembali kalimat-kalimat Anda tadi dengan benda atau pemandangan yang Anda amati.</li>
<li>Amati kembali benda atau pemandangan itu tanpa      melupakan kalimat-kalimat yang telah Anda susun.</li>
<li>Pelan tetapi pasti, benda atau pemandangan itu Anda rasakan melalui perasaan Anda. Pahamilah dan hayatilah benda atau pemandangan itu dengan menggunakan perasaan Anda.</li>
<li>Kemudian tanggapilah dengan menggunakan perasaan Anda. Caranya, dalam batin susunlah kalimat-kalimat tambahan untuk kalimat-kalimat yang telah Anda ucapkan tadi. Kalimat tambahan tersebut sudah menggambarkan tanggapan perasaan Anda. Misalnya:
<ul>
<li>Aku menatap keluasan langit biru dengan hiasan       awan seputih kapas. Kurasakan keteduhan dan kesucian membentang di sana.</li>
<li>Kupandang dinding berwarna putih dengan beberapa noktah hitamnya. Aku kecewa dan sedih karena sesuatu yang bersih dan baik telah dinodai oleh kekotoran dan ketidakbaikan.</li>
<li>Saya mengamati pucuk pohon dengan daun-daunnya yang menari gemulai ditiup angin. Saya turut bahagia sambil membayangkan turut menari-nari gemulai diiringi alunan musik angin semilir.</li>
<li>Debu-debu        di hadapanku menghiasi lantai dan tanah yang menghampar. Aku terharu, sesuatu yang mungkin merasa tidak berarti, tetapi sangat setia memberikan hiasan yang bermakna bagi tanah kelahiran.</li>
<li>Sekuntum bunga disangga tangkainya membekas dalam tatapan mataku. Aku kagum dan bangga atas kesetiaan dan kebersamaan keduanya. Bunga dan tangkainya, dua hal yang saling mengisi, saling memberi dan menerima.</li>
</ul>
</li>
<li>Jika kalimat sudah tersusun, bersiaplah untuk mengucapkan kalimat-kalimat itu dengan volume suara yang keras, pengucapannya jelas, dan intonasi yang bervariasi.</li>
<li>Ucapkanlah secara bergiliran sesuai urutan yang      ditunjuk.</li>
<li>Ucapkanlah dengan menggunakan ekspresi wajah, ekspresi gerak tangan atau tubuh, dan dengan penghayatan perasaan yang sesuai.</li>
<li>Ya. Anda. Ucapkan!</li>
<li>Ucapkan sekali lagi. Ya. Ucapkan!</li>
</ol>
<p>Keterangan:</p>
<ol>
<li>Pelaksanaan latihan konsentrasi indera penglihatan dan diteruskan pada konsentrasi perasaan dapat menggunakan ilustrasi iringan musik yang lembut.</li>
<li>Jarak      duduk peserta satu dengan yang lainnya diatur agar peserta tidak saling      bersentuhan.</li>
<li>Posisi duduk dapat berganti-ganti untuk menghindari rasa pegal atau kesemutan asalkan tidak mengganggu kesinambungan konsentrasi.</li>
<li>Bila dalam proses latihan terdapat peserta yang tidak berkonsentrasi penuh (misalnya: mata lirak-lirik, bercakap-cakap dengan temannya, tersenyum geli), instruktur wajib memberi peringatan atau teguran.</li>
<li>Contoh kalimat dapat diucapkan berulang-ulang oleh      instruktur untuk memudahkan peserta memahami  konstruksi dan maknanya, dan selanjutnya      agar peserta mudah menyusun kalimatnya sendiri.</li>
<li>Bila peserta mengucapkan kalimatnya dengan volume suara kurang keras, instruktur wajib menginstruksikan agar peserta tersebut memperkeras suaranya.</li>
<li>Bila peserta mengucapkan kalimatnya kurang berekspresi atau kurang menghayati, instruktur wajib menginstruksikan agar peserta meningkatkan ekspresi dan penghayatannya.</li>
<li>Dalam proses latihan dari awal hingga akhir, instruktur wajib menciptakan suasana keseriusan dan penghayatan, sehingga kompetensi konsentrasi sepenuhnya dapat tercapai.</li>
<li>Selamat berlatih menjadi pelatih (instruktur) dengan      menggunakan berbagai variasi instruksi. Semoga sukses!</li>
</ol>
<p align="right"><strong>(Pengirim: Teater Asba SMP Negeri 23 Purworejo, Jawa Tengah)</strong></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/ustadjipw.wordpress.com/35/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/ustadjipw.wordpress.com/35/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/ustadjipw.wordpress.com/35/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/ustadjipw.wordpress.com/35/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/ustadjipw.wordpress.com/35/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/ustadjipw.wordpress.com/35/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/ustadjipw.wordpress.com/35/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/ustadjipw.wordpress.com/35/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/ustadjipw.wordpress.com/35/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/ustadjipw.wordpress.com/35/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/ustadjipw.wordpress.com/35/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/ustadjipw.wordpress.com/35/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/ustadjipw.wordpress.com/35/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/ustadjipw.wordpress.com/35/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ustadjipw.wordpress.com&amp;blog=8865519&amp;post=35&amp;subd=ustadjipw&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ustadjipw.wordpress.com/2009/08/07/kepelatihan-seni-teater/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/80f2e60f6de9b88cd537419869163eb8?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">ustadjipw</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Kalimat Tanya yang Tidak Efektif</title>
		<link>http://ustadjipw.wordpress.com/2009/08/06/kalimat-tanya-yang-tidak-efektif/</link>
		<comments>http://ustadjipw.wordpress.com/2009/08/06/kalimat-tanya-yang-tidak-efektif/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 06 Aug 2009 15:45:30 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ustadjipw</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bahasa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ustadjipw.wordpress.com/?p=27</guid>
		<description><![CDATA[Kita memiliki kaidah atau aturan penggunaan bahasa yang efektif. Artinya, dalam menggunakan bahasa, kita harus mempertimbangkan ekonomis bahasa (hemat dan padat)  tetapi maksud yang disampaikan sudah benar dan tepat. Kita harus menghindarkan penggunaan kata-kata yang tidak perlu. Penggunaan bahasa efektif tidak hanya untuk bahasa tulis, tetapi juga untuk bahasa lisan. Termasuk ketika kita menggunakan kalimat [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ustadjipw.wordpress.com&amp;blog=8865519&amp;post=27&amp;subd=ustadjipw&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Kita memiliki kaidah atau aturan penggunaan bahasa yang efektif. Artinya, dalam menggunakan bahasa, kita harus mempertimbangkan ekonomis bahasa (hemat dan padat)  tetapi maksud yang disampaikan sudah benar dan tepat. Kita harus menghindarkan penggunaan kata-kata yang tidak perlu. Penggunaan bahasa efektif tidak hanya untuk bahasa tulis, tetapi juga untuk bahasa lisan. Termasuk ketika kita menggunakan kalimat tanya. Khusus kali ini kita soroti penggunaan bentuk <em>–nya</em> yang tidak efektif dalam kalimat tanya.</p>
<p>Berikut ini contoh-contoh kalimat tanya yang sering kita dengar  sehari-hari:</p>
<p><span id="more-27"></span></p>
<p>(1)   Kamu namanya siapa?</p>
<p>(2)   Kamu alamat rumahnya di mana?</p>
<p>(3)   Hari ini petugas piketnya siapa, ya?</p>
<p>(4)   Ulangan harian hari ini soalnya sulit-sulit <em>nggak</em>, ya?</p>
<p>(5)    Kamu nilainya berapa?</p>
<p>Penggunaan <em>–nya </em>pada <em>namanya</em>, <em>rumahnya</em>, <em>piketnya</em>, <em>soalnya</em>, dan <em>nilainya</em> mengakibatkan kalimat-kalimat tanya di atas tidak efektif. Bentuk <em>–nya </em>tidak perlu digunakan dalam kalimat tanya tersebut. Selain itu, seharusnya kata tanya diletakkan di depan. Jadi, seharusnya kalimat-kalimat tanya tersebut adalah:</p>
<p>(1)   Siapa namamu?</p>
<p>(2)   Di mana alamat rumahmu?</p>
<p>(3)   Siapa petugas piket hari ini, ya?</p>
<p>(4)   Sulit-sulit tidak ya soal ulangan harian hari ini?</p>
<p>(5)   Berapa nilaimu?</p>
<p>Nah, biasakanlah mulai hari ini menggunakan kalimat tanya yang efektif!</p>
<p align="right">(<strong>Ustadji Pantja Wibiarsa</strong>, guru Bahasa Indonesia</p>
<p align="right">SMP Negeri 23 Purworejo)</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/ustadjipw.wordpress.com/27/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/ustadjipw.wordpress.com/27/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/ustadjipw.wordpress.com/27/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/ustadjipw.wordpress.com/27/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/ustadjipw.wordpress.com/27/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/ustadjipw.wordpress.com/27/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/ustadjipw.wordpress.com/27/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/ustadjipw.wordpress.com/27/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/ustadjipw.wordpress.com/27/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/ustadjipw.wordpress.com/27/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/ustadjipw.wordpress.com/27/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/ustadjipw.wordpress.com/27/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/ustadjipw.wordpress.com/27/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/ustadjipw.wordpress.com/27/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ustadjipw.wordpress.com&amp;blog=8865519&amp;post=27&amp;subd=ustadjipw&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ustadjipw.wordpress.com/2009/08/06/kalimat-tanya-yang-tidak-efektif/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/80f2e60f6de9b88cd537419869163eb8?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">ustadjipw</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Amblas dan Ambles</title>
		<link>http://ustadjipw.wordpress.com/2009/08/06/amblas-dan-ambles/</link>
		<comments>http://ustadjipw.wordpress.com/2009/08/06/amblas-dan-ambles/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 06 Aug 2009 15:35:52 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ustadjipw</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bahasa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ustadjipw.wordpress.com/?p=24</guid>
		<description><![CDATA[Sering kita baca atau kita dengar berita di surat kabar atau televisi penggunaan kata amblas dalam berita tentang kondisi suatu jalan. Kita menjadi bertanya-tanya. Mana yang benar, amblas atau ambles? Bandingkanlah penggunaan dua kata tersebut dalam kalimat-kalimat berikut ini! (1)   Beberapa bagian jalan itu amblas, sehingga mengganggu kelancaran lalu lintas. (2)   Akibat gempa tadi siang, [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ustadjipw.wordpress.com&amp;blog=8865519&amp;post=24&amp;subd=ustadjipw&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Sering kita baca atau kita dengar berita di surat kabar atau televisi penggunaan kata <em>amblas </em>dalam berita tentang kondisi suatu jalan. Kita menjadi bertanya-tanya. Mana yang benar, <em>amblas </em>atau <em>ambles</em>?</p>
<p>Bandingkanlah penggunaan dua kata tersebut dalam kalimat-kalimat berikut ini!</p>
<p>(1)   Beberapa bagian jalan itu <em>amblas</em>, sehingga mengganggu kelancaran lalu lintas.</p>
<p><span id="more-24"></span></p>
<p>(2)   Akibat gempa tadi siang, beberapa bangunan <em>ambles</em> beberapa sentimeter.</p>
<p>(3)   Dalam sekejap jutaan uangnya <em>amblas </em>di meja judi.</p>
<p>(4)   Harapan anak muda itu <em>ambles</em> setelah kedua orang tuanya meninggal.</p>
<p>Marilah kita mencoba merunut maksud empat kalimat di atas. Kalimat (1) sebenarnya bermaksud memberitahukan bahwa beberapa bagian jalan itu mengalami kerusakan yaitu <em>melesak masuk/turun ke dalam tanah </em>atau <em>tenggelam</em>. Maksud yang demikian itu sama dengan kalimat (2). Kalimat (3) bermakna jutaan uang itu <em>habis, lenyap, hilang </em>karena digunakan untuk berjudi. Sama dengan kalimat (4), anak muda itu <em>sudah tidak memiliki </em>atau <em>kehilangan </em>harapan.</p>
<p>Kata <em>amblas </em>merupakan kata yang digunakan dalam bahasa percakapan dengan makna <em>hilang, lenyap, habis, tidak muncul-muncul lagi</em>. Sedangkan kata <em>ambles</em> merupakan kata yang diserap dari bahasa Jawa yang berarti <em>turun ke dalam tanah </em>atau <em>tenggelam</em>.</p>
<p>Oleh karena itu, sesuai dengan maksudnya, kalimat (1) seharusnya menggunakan kata <em>ambles </em>dan kalimat (4) seharusnya menggunakan kata <em>amblas</em>. Sedangkan kalimat (2) dan (3) sudah tepat.</p>
<p align="right">(<strong>Ustadji Pantja Wibiarsa</strong>, Guru Bahasa Indonesia di</p>
<p align="right">SMP Negeri 23 Purworejo)</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/ustadjipw.wordpress.com/24/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/ustadjipw.wordpress.com/24/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/ustadjipw.wordpress.com/24/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/ustadjipw.wordpress.com/24/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/ustadjipw.wordpress.com/24/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/ustadjipw.wordpress.com/24/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/ustadjipw.wordpress.com/24/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/ustadjipw.wordpress.com/24/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/ustadjipw.wordpress.com/24/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/ustadjipw.wordpress.com/24/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/ustadjipw.wordpress.com/24/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/ustadjipw.wordpress.com/24/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/ustadjipw.wordpress.com/24/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/ustadjipw.wordpress.com/24/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ustadjipw.wordpress.com&amp;blog=8865519&amp;post=24&amp;subd=ustadjipw&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ustadjipw.wordpress.com/2009/08/06/amblas-dan-ambles/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/80f2e60f6de9b88cd537419869163eb8?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">ustadjipw</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Konsep Dasar Pembelajaran Kreasi Seni Teater di SMP</title>
		<link>http://ustadjipw.wordpress.com/2009/08/05/konsep-dasar-pembelajaran-kreasi-seni-teater-di-smp/</link>
		<comments>http://ustadjipw.wordpress.com/2009/08/05/konsep-dasar-pembelajaran-kreasi-seni-teater-di-smp/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 05 Aug 2009 10:53:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ustadjipw</dc:creator>
				<category><![CDATA[Seni Teater]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ustadjipw.wordpress.com/?p=21</guid>
		<description><![CDATA[Pada umumnya pembelajaran Seni Teater di SMP terdiri atas dua aspek yaitu aspek apresiasi dan kreasi. Namun demikian, karena keterbatasan SDM khususnya guru, lebih banyak aspek apresiasi yang disampaikan. Kondisi itu disebabkan oleh latar belakang pendidikan guru pengajar mata pelajaran Seni Budaya itu bukan Pendidikan Seni Teater. Padahal sebagai kategori pembelajaran keterampilan, Seni Teater mengutamakan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ustadjipw.wordpress.com&amp;blog=8865519&amp;post=21&amp;subd=ustadjipw&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span style="font-size:100%;"><span style="font-family:times new roman;">Pada umumnya pembelajaran Seni Teater di SMP terdiri atas dua aspek yaitu aspek apresiasi dan kreasi. Namun demikian, karena keterbatasan SDM khususnya guru, lebih banyak aspek apresiasi yang disampaikan. Kondisi itu disebabkan oleh latar belakang pendidikan guru pengajar mata pelajaran Seni Budaya itu bukan Pendidikan Seni Teater. Padahal sebagai kategori pembelajaran keterampilan, Seni Teater mengutamakan aspek kreasi.<br />
Berdasarkan kondisi tersebut, pada kesempatan ini perlulah dibahas konsep-konsep dasar pembelajaran kreasi Seni Teater, khususnya di SMP yang guru pengajar Seni Budayanya bukan berlatar Pendidikan Seni Teater. Konsep dasar ini dapat digunakan sebagai acuan awal atau minimal sebagai gambaran dasar untuk mengenalkan pembelajaran kreasi Seni Teater kepada peserta didik.</span></span></p>
<p><span style="font-size:100%;"><span style="font-family:times new roman;"><span id="more-21"></span><br />
Konsep dasar yang dipaparkan di sini diambil berdasarkan pengalaman yang diberikan dan diperoleh dari kegiatan-kegiatan pelatihan Seni Teater, baik di kegiatan ekstrakurikuler sekolah, maupun di kegiatan kelompok teater tingkat umum.<br />
Konsep dasar itu antara lain:<br />
</span></span></p>
<ol>
<li><span style="font-size:100%;"><span style="font-family:times new roman;">Seni Teater mencakup keterampilan olah rasa, olah pikir, olah tubuh, dan olah suara yang pementasannya memadukan Seni Sastra, Seni Peran, Seni Gerak, Seni Rupa, Seni Tari, dan Seni Musik.</span></span></li>
<li><span style="font-size:100%;"><span style="font-family:times new roman;">Seni Sastra merupakan bahan baku untuk pementasan Seni Teater. Bentuknya berupa naskah, dari unsur terkecil yang merupakan komposisi bunyi-bunyi huruf vokal/konsonan, komposisi suku kata, komposisi kata, komposisi kalimat, sampai dengan komposisi dialog utuh yang membentuk karakter dan cerita.</span></span></li>
<li><span style="font-size:100%;"><span style="font-family:times new roman;">Seni Peran memberikan keterampilan kepada seseorang untuk memerankan karakter tokoh tertentu yang ditulis di dalam naskah drama. Keterampilan ini membutuhkan gabungan olah rasa, olah pikir, olah tubuh, dan olah suara.</span></span></li>
<li><span style="font-size:100%;"><span style="font-family:times new roman;">Seni Gerak pada umumnya merupakan keterampilan untuk memindahkan gerakan-gerakan yang sering dilakukan dalam kehidupan sehari-hari ke dalam pemeranan tokoh cerita. Secara khusus, juga dipelajari gerak-gerak teateral (gerak penggarapan) yang disesuaikan dengan kebutuhan pementasan drama.</span></span></li>
<li><span style="font-size:100%;"><span style="font-family:times new roman;">Seni Rupa dalam pementasan drama dibutuhkan untuk segi tata artistik panggung, dekorasi, properti, busana, dan rias.</span></span></li>
<li><span style="font-size:100%;"><span style="font-family:times new roman;">Seni Tari digunakan untuk penggarapan gerak menjadi gerak simbolis berirama dan artistik yang sangat mendukung nilai artistik pementasan drama.</span></span></li>
<li><span style="font-size:100%;"><span style="font-family:times new roman;">Seni Musik digunakan untuk mengiringi pementasan drama. Iringan ini tidak sekedar ilustrasi, tetapi sudah disesuaikan dengan penghayatan makna cerita dalam pementasan drama.</span></span></li>
<li><span style="font-size:100%;"><span style="font-family:times new roman;">Olah rasa ditekankan pada penghayatan peran dalam pementasan drama. Dalam tingkatan awal olah rasa merupakan pengekspresian perasaan tertentu yang merupakan reaksi dari situasi dan kondisi tertentu. Dalam tingkatan lanjut olah rasa merupakan gabungan pengekspresian berbagai perasaan, yang kadang-kadang perubahannya begitu cepat.<br />
</span></span></li>
<li><span style="font-size:100%;"><span style="font-family:times new roman;">Olah pikir merupakan keterampilan dalam memahami logika proses kehidupan yang ditampilkan dalam drama. Pada umumnya olah pikir ini beorientasi pada hukum kausal.<br />
</span></span></li>
<li><span style="font-size:100%;"><span style="font-family:times new roman;">Olah tubuh berfungsi sebagai pelatihan kelenturan gerak otot-otot dan sendi tubuh yang akan digunakan untuk mengekspresikan gerak tokoh tertentu dalam pementasan drama. Secara keaktoran, olah tubuh ini sangat membantu akting seseorang dalam memerankan tokoh tertentu.<br />
</span></span></li>
<li><span style="font-size:100%;"><span style="font-family:times new roman;">Proses pembelajaran kreasi Seni Teater untuk pemeranan pada umumnya dilakukan secara berjenjang dari pelatihan konsentrasi, pernapasan, suara, gerak, penghayatan, akting, dan bloking.</span></span></li>
</ol>
<p><span style="font-size:100%;">Demikianlah antara lain konsep dasar dalam pembelajaran kreasi Seni Teater yang di sekolah-sekolah sering menggunakan istilah Seni Drama sebagai pengganti Seni Teater. Bagi seseorang yang ingin bermain teater atau drama, konsep dasar itu tidak akan berarti apabila tidak dipraktikkan secara rutin dan terjadwal. Bagi guru Seni Budaya yang ingin memberikan pembelajaran kreasi itu kepada peserta didiknya perlu memahami teknik-teknik pelatihannya, agar peserta didik mudah menyerap dan memraktikkannya.<br />
Semoga konsep dasar yang telah diuraikan di atas dapat dipahami dan selanjutnya dapat dipraktikkan di sekolah, khususnya di SMP.</span></p>
<p><span style="font-size:100%;"><br />
</span></p>
<div style="text-align:right;"><span style="font-size:100%;">(<strong>Ustadji Pantja Wibiarsa</strong>, berdasarkan pengalaman sebagai instruktur pelatihan teater)<br />
</span></div>
<p><span style="font-size:100%;"><span style="font-family:times new roman;"><br />
</span></span></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/ustadjipw.wordpress.com/21/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/ustadjipw.wordpress.com/21/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/ustadjipw.wordpress.com/21/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/ustadjipw.wordpress.com/21/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/ustadjipw.wordpress.com/21/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/ustadjipw.wordpress.com/21/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/ustadjipw.wordpress.com/21/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/ustadjipw.wordpress.com/21/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/ustadjipw.wordpress.com/21/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/ustadjipw.wordpress.com/21/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/ustadjipw.wordpress.com/21/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/ustadjipw.wordpress.com/21/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/ustadjipw.wordpress.com/21/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/ustadjipw.wordpress.com/21/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ustadjipw.wordpress.com&amp;blog=8865519&amp;post=21&amp;subd=ustadjipw&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ustadjipw.wordpress.com/2009/08/05/konsep-dasar-pembelajaran-kreasi-seni-teater-di-smp/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/80f2e60f6de9b88cd537419869163eb8?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">ustadjipw</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Wabah Singkatan</title>
		<link>http://ustadjipw.wordpress.com/2009/08/05/wabah-singkatan/</link>
		<comments>http://ustadjipw.wordpress.com/2009/08/05/wabah-singkatan/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 05 Aug 2009 09:52:50 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ustadjipw</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bahasa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ustadjipw.wordpress.com/?p=16</guid>
		<description><![CDATA[Mungkin istilah &#8220;wabah&#8221; dalam uraian ini kurang tepat. Namun saya bermaksud menunjukkan bahwa persoalan yang akan saya kemukakan ini sudah menjadi &#8220;gejala negatif&#8221; yang melanda para pengguna bahasa Indonesia secara tertulis. Berdasarkan pengalaman saya mengajar di beberapa sekolah di beberapa kota dan pengamatan saya di setiap lingkungan tempat saya tinggal, sangat membuktikan menggejalanya wabah  tersebut. [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ustadjipw.wordpress.com&amp;blog=8865519&amp;post=16&amp;subd=ustadjipw&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:left;">Mungkin istilah &#8220;wabah&#8221; dalam uraian ini kurang tepat. Namun saya bermaksud menunjukkan bahwa persoalan yang akan saya kemukakan ini sudah menjadi &#8220;gejala negatif&#8221; yang melanda para pengguna bahasa Indonesia secara tertulis. Berdasarkan pengalaman saya mengajar di beberapa sekolah di beberapa kota dan pengamatan saya di setiap lingkungan tempat saya tinggal, sangat membuktikan menggejalanya wabah  tersebut. Persoalan tersebut berkaitan dengan penggunaan singkatan yang memprihatinkan dan perlu mendapat perhatian untuk dicegah.</p>
<p style="text-align:left;">Beberapa contoh berikut ini saya kutip dari catatan pelajaran milik murid-murid saya:</p>
<p style="text-align:left;"><span id="more-16"></span></p>
<p>(1)   Pengalaman pribadi <em>yg</em> mengesankan <em>dpt</em> disampaikan <em>dng</em> menggunakan alat peraga, <em>mslnya</em> gambar.</p>
<p>(2)   Penggunaan alat peraga itu <em>utk</em> menambah daya tarik.</p>
<p>(3)   Alat<em><sup>xx</sup></em> peraga berupa musik kaset <em>&amp;</em> dibunyikan mengiringi penyampaian pengalaman pribadi <em>dpt</em> menambah daya tarik, <em>shg </em>pendengar <em>dpt</em> turut menghayati suasana pengalaman itu.</p>
<p>Rupanya munculnya singkatan-singkatan yang bercetak miring di atas bermula pada keinginan untuk hemat dan cepat dalam menulis, kemudian menjadi kebiasaan yang sulit dihilangkan. Dalam hal ini &#8220;hemat dan cepat&#8221; tersebut tidak mendukung berbahasa yang baik dan benar.</p>
<p>Seharusnya kata-kata tersebut ditulis lengkap yaitu pada (1) <em>yang</em>, <em>dapat</em>, <em>dengan</em>, <em>misalnya</em>; (2) <em>untuk</em>; (3) <em>alat-alat</em>, <em>dan</em>, <em>dapat</em>, <em>sehingga</em>, <em>dapat</em>. Mulai saat ini juga kita tidak perlu membiasakan menulis kata-kata yang seharusnya tidak disingkat dengan cara menyingkatnya. Sekali dua kali kita menyingkatnya, kita akan terbiasa dengan &#8220;wabah&#8221; tersebut dan menularkannya ke teman-teman kita.</p>
<p>Lebih-lebih pada era teknologi komunikasi penggunaan <em>handphone</em> dengan layanan <em>SMS-</em>nya, para remaja sangat gencar menularkan &#8220;wabah&#8221; singkatan itu. Seribu satu macam singkatan dapat diciptakan dalam waktu yang singkat. Misalnya saja: <em>t4</em> (singkatan  <em>tempat</em>), <em>5f </em>(singkatan <em>maaf</em>), <em>7an</em> (singkatan <em>tujuan</em>), <em>klo </em>(singkatan <em>kalau</em>), <em>seX</em> (singkatan dari <em>sekali</em>), <em>lom </em>(singkatan <em>belum</em>), <em>no&#8217;y </em>(singkatan <em>nomornya</em>), <em>dah</em> (singkatan <em>sudah</em>). Tragisnya, singkatan-singkatan itu menyeruak begitu saja dari layar <em>handphone </em>dan menyerbu catatan-catatan pelajaran yang dibuat para siswa di sekolah. Bahkan pekerjaan siswa yang harus dinilai oleh guru pun tidak dapat terhindar dari singkatan-singkatan itu. Siapa lagi yang akan bertanggung jawab terhadap sikap menjunjung bahasa persatuan bahasa Indonesia jika kondisi penggunaan bahasa Indonesia sudah sedemikian memprihatinkan?</p>
<p style="text-align:right;">(<strong>Ustadji Pantja Wibiarsa</strong>, guru Bahasa Indonesia</p>
<p style="text-align:right;">di SMP Negeri 23 Purworejo, Jawa Tengah)</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/ustadjipw.wordpress.com/16/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/ustadjipw.wordpress.com/16/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/ustadjipw.wordpress.com/16/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/ustadjipw.wordpress.com/16/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/ustadjipw.wordpress.com/16/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/ustadjipw.wordpress.com/16/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/ustadjipw.wordpress.com/16/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/ustadjipw.wordpress.com/16/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/ustadjipw.wordpress.com/16/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/ustadjipw.wordpress.com/16/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/ustadjipw.wordpress.com/16/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/ustadjipw.wordpress.com/16/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/ustadjipw.wordpress.com/16/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/ustadjipw.wordpress.com/16/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ustadjipw.wordpress.com&amp;blog=8865519&amp;post=16&amp;subd=ustadjipw&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ustadjipw.wordpress.com/2009/08/05/wabah-singkatan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/80f2e60f6de9b88cd537419869163eb8?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">ustadjipw</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Ketika Sastra dan Budaya Luhur Terpinggirkan</title>
		<link>http://ustadjipw.wordpress.com/2009/08/05/ketika-sastra-dan-budaya-luhur-terpinggirkan/</link>
		<comments>http://ustadjipw.wordpress.com/2009/08/05/ketika-sastra-dan-budaya-luhur-terpinggirkan/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 05 Aug 2009 09:26:59 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ustadjipw</dc:creator>
				<category><![CDATA[Budaya]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ustadjipw.wordpress.com/?p=9</guid>
		<description><![CDATA[Suatu saat, suatu saat, dan suatu saat lagi saya dihantui oleh kecemasan. Kecemasan saya itu bukan tanpa alasan.Hampir tiap hari saya menyaksikan kenyataan bahwa kehidupan semakin dikuasai oleh pertimbangan-pertimbangan yang mendudukkan uang di singgasana kekaisaran. Uang jadi raja segala-galanya. Pertimbangan-pertimbangan serba uang telah mempengaruhi pola pikir dan pola rasa manusia. Manusia yang pada mulanya berperikemanusiaan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ustadjipw.wordpress.com&amp;blog=8865519&amp;post=9&amp;subd=ustadjipw&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div>
<p>Suatu saat, suatu saat, dan suatu saat lagi saya dihantui oleh kecemasan. Kecemasan saya itu bukan tanpa alasan.Hampir tiap hari saya menyaksikan kenyataan bahwa kehidupan semakin dikuasai oleh pertimbangan-pertimbangan yang mendudukkan uang di singgasana kekaisaran. Uang jadi raja segala-galanya.</p>
<p>Pertimbangan-pertimbangan serba uang telah mempengaruhi pola pikir dan pola rasa manusia. Manusia yang pada mulanya berperikemanusiaan berubah menjadi berperikeuangan. Manusia yang semula bermata nurani berubah menjadi bermata uang. Pikir dan rasa yang ada dalam diri manusia yang semula merupakan satu sinergi harmonis, kini keduanya menjadi musuh bebuyutan dalam perang terbuka.</p>
<p><span id="more-9"></span></p>
<p>Dulu ketika bapak saya sering nembang atau “ura-ura” yang tembangnya dicuplik dari pustaka luhur karya para pujangga, kangmas dan mbakyu saya pun sering menjelaskan ulang bahwa tembang-tembang itu berisi ajaran luhur untuk selalu menjalin rasa kemanusiaan yang selalu didasari oleh rasa keilahian. Tembang itu adalah juga puisi kehidupan yang menjunjung tinggi martabat dan derajat manusia sebagai makhluk ciptaan Tuhan. Waktu itu saya belum mudeng. Ajaran itu merupakan bagian dari sastra dan sekaligus sebagai budaya luhur nenek moyang bangsa ini.</p>
<p>Ibu saya pun dulu sering mendongengi saya dengan dongeng-dongeng yang waktu itu selalu membuat saya membayangkan hidup di dunia yang aman dan damai. Setelah mendongeng, ibu saya selalu berpesan tentang budi pekerti luhur, tata krama, tepa selira, gotong royong, aja adigang-adigung-adiguna, melu andarbeni, ngundhuh wohing pakarti, dan pesan-pesan luhur lainnya. Intinya pesan-pesan itu adalah berbagai norma atau ajaran luhur yang penerapannya menghasilkan sebuah bentuk kehidupan bermasyarakat atau berkeluarga yang bahagia, damai, aman, sejahtera lahir dan batin berlandaskan agama.</p>
<p>Pada zaman sekarang terlalu jarang saya dapati seorang bapak nembang atau “ura-ura” ataupun seorang ibu mendongeng untuk anak-anaknya. Seorang bapak atau seorang ibu pada zaman sekarang banyak yang terlalu disibukkan oleh upaya mencari uang atau tambahan uang untuk mempertahankan hidup atau untuk meningkatkan taraf hidup secara material. Mereka (yang begitu tadi) sama sekali tidak paham akan makna yang mendalam dari sastra tembang dan sastra dongeng bagi pembangungan kehidupan yang aman, damai, dan sejahtera lahir batin. Mereka lupa bahwa kehidupan ini perlu dibangun dengan lanskap-lanskap puisi nurani.</p>
<p>Lebih tragis lagi ketika mereka sering “ngoprak-oprak” anak-anaknya untuk berbuat baik, sementara mereka sendiri sering melupakan petuah-petuah luhur dari orang tua mereka dan kehidupan mereka terbelenggu oleh pertimbangan-pertimbangan material keuangan. Sedangkan anak-anak sangat jarang melihat keteladanan dari para pendahulu (orang tua) mereka. Akibatnya sangat tragis, anak-anak menjadi cuek, masa bodoh, tidak peduli terhadap keteladanan dan keluhuran. Kepedulian terhadap nasib orang lainpun semakin tipis. Egoisme semakin merajai. Sikap dan tingkah laku “sak penak udele dhewe” semakin mencengkeram jiwa anak-anak. Bahkan sikap perusuh dan perusak telah demikian menguasai.</p>
<p>Dengan demikian, budaya berbudi pekerti luhur dan bertata krama baik yang seharusnya terwariskan turun-temurun, mengalami keterpenggalan di tengah jalan. Budaya budi pekerti luhur dan tata krama baik menjadi hal yang langka. Saya berpendapat bahwa hal itu terjadi karena sastra dan budaya luhur terpinggirkan dari sistem kehidupan berkeluarga, bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.</p>
<p>Sudah saatnya kini, semuanya kembali menyentuh sastra dan budaya luhur warisan para leluhur pendahulu kita. Sudah saatnya kini, semuanya kembali ke puisi kehidupan yang begitu lekat dengan kebeningan embun nurani. Semoga berhasil dan kehidupan di bumi ini semakin baik, aman, damai, sejahtera lahir dan batin. Amin.</p>
<p style="text-align:right;">(<strong>Ustadji Pantja Wibiarsa</strong>, Ketua Sanggar Kalimasada Kutoarjo, sebuah sanggar kepenulisan sastra di Kutoarjo, Purworejo, Jawa Tengah)</p>
</div>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/ustadjipw.wordpress.com/9/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/ustadjipw.wordpress.com/9/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/ustadjipw.wordpress.com/9/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/ustadjipw.wordpress.com/9/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/ustadjipw.wordpress.com/9/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/ustadjipw.wordpress.com/9/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/ustadjipw.wordpress.com/9/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/ustadjipw.wordpress.com/9/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/ustadjipw.wordpress.com/9/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/ustadjipw.wordpress.com/9/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/ustadjipw.wordpress.com/9/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/ustadjipw.wordpress.com/9/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/ustadjipw.wordpress.com/9/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/ustadjipw.wordpress.com/9/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ustadjipw.wordpress.com&amp;blog=8865519&amp;post=9&amp;subd=ustadjipw&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ustadjipw.wordpress.com/2009/08/05/ketika-sastra-dan-budaya-luhur-terpinggirkan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/80f2e60f6de9b88cd537419869163eb8?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">ustadjipw</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Strategi Peserta Didik Mewujudkan Kecerdasan Komprehensif dan Kompetitif</title>
		<link>http://ustadjipw.wordpress.com/2009/08/04/strategi-peserta-didik-mewujudkan-kecerdasan-komprehensif-dan-kompetitif/</link>
		<comments>http://ustadjipw.wordpress.com/2009/08/04/strategi-peserta-didik-mewujudkan-kecerdasan-komprehensif-dan-kompetitif/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 04 Aug 2009 13:34:40 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ustadjipw</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pendidikan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ustadjipw.wordpress.com/?p=3</guid>
		<description><![CDATA[Interaksi pendidik (guru) dan peserta didik (murid) yang dapat menunjang pelaksanaan misi pendidikan adalah dengan model kemitraan. Pendidik dan peserta didik merupakan mitra dalam mewujudkan insan yang cerdas komprehensif dan kompetitif. Sebagai mitra, pendidik dan peserta didik perlu menjalin komunikasi sosial  yang akrab, kerja sama positif , kreatif, produktif, dan inovatif,  serta sikap evaluatif timbal [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ustadjipw.wordpress.com&amp;blog=8865519&amp;post=3&amp;subd=ustadjipw&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Interaksi pendidik (guru) dan peserta didik (murid) yang dapat menunjang pelaksanaan misi pendidikan adalah dengan model kemitraan. Pendidik dan peserta didik merupakan mitra dalam mewujudkan insan yang cerdas komprehensif dan kompetitif. Sebagai mitra, pendidik dan peserta didik perlu menjalin komunikasi sosial  yang akrab, kerja sama positif , kreatif, produktif, dan inovatif,  serta sikap evaluatif timbal balik.</p>
<p>Pada umumnya kendala utama dalam kemitraan pendidik dan peserta didik adalah faktor psikologis. Ekses budaya kolonialisme dan paternalisme yang telah berurat berakar di Indonesia menempatkan interaksi pendidik dan peserta didik pada kesenjangan posisi sosial. Pendidik lebih banyak menempatkan dirinya sebagai sosok yang “berkuasa” atas peserta didiknya serta “serba benar” dan “serba pintar” di mata peserta didiknya.  Sebaliknya peserta didik lebih banyak menempatkan dirinya sebagai sosok “penurut” kepada pendidiknya serta “serba kurang” dan “serba perlu dituntun terus-menerus” oleh pendidiknya. Kondisi yang demikian itu mengakibatkan komunikasi sosial kedua pihak kaku. Akibatnya pula, kegiatan belajar-mengajar mengkondisikan pendidik lebih aktif daripada peserta didik, bahkan sebagian besar peserta didik pasif. Kepasifan itu akan menghambat upaya kerja sama positif, kreatif, produktif, dan inovatif. Kegiatan saling mengevaluasi pun tidak akan terlaksana dengan baik.</p>
<p><span id="more-3"></span></p>
<p>Oleh karena itu, mengingat peserta didik itu sebagai pelaku pendidikan yang diharapkan menjadi keluaran (lulusan) pendidikan bercirikan cerdas komprehensif dan kompetitif, perlulah dicanangkan strategi peserta didik dalam upaya pencapaian lulusan itu. Strategi yang perlu dilaksanakan oleh peserta didik dalam tulisan ini dijabarkan dan dikembangkan berdasarkan renstra pendidikan yang ditetapkan oleh Depdiknas. Mengingat pendidik sebagai mitra peserta didik, perlulah pula strategi itu melibatkan pendidik.</p>
<h1>Strategi Cerdas Spiritual</h1>
<p>Dalam renstra pendidikan yang ditetapkan oleh Departemen Pendidikan Nasional, makna insan yang cerdas spiritual adalah insan yang beraktualisasi diri melalui olah hati/kalbu untuk menumbuhkan dan memperkuat keimanan, ketakwaan dan akhlak mulia termasuk budi pekerti luhur dan kepribadian unggul. Kegiatan inti yang menunjang kecerdasan tersebut merupakan cara pembentukan kepribadian melalui pengolahan hati/kalbu. Pengolahan hati/kalbu ini berdasarkan agama, moral, etika, dan mental. Dalam hal ini kualitas keyakinan dan hati nurani merupakan modal utama.</p>
<p>Strategi cerdas spiritual yang dapat diterapkan peserta didik adalah menyerap, mengembangkan, dan memanfaatkan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni budaya (ipteks) dengan berorientasi pada:</p>
<ol>
<li>ibadah, iman, dan takwa kepada Tuhan Yang Mahaesa;</li>
<li>kewajiban asasi manusia selaku makhluk ciptaan Tuhan;</li>
<li>hak asasi manusia selaku makhluk ciptaan Tuhan;</li>
<li>kemaslahatan umat manusia dunia dan akhirat;</li>
<li>toleransi dan kerukunan umat beragama;</li>
<li>rasa cinta dan kasih sayang;</li>
<li>kedamaian dan kesejahteraan;</li>
<li>kejujuran dan keadilan;</li>
<li>pengabdian dan tanggung jawab;</li>
</ol>
<p>Ketika peserta didik di dalam menyerap, mengembangkan, dan memanfaatkan ipteks sadar benar-benar bahwa semuanya itu dilakukan demi ibadah, iman, dan takwanya kepada Tuhan Yang Mahaesa, maka peserta didik akan menjadikan ipteks itu sebagai sarana untuk melaksanakan perintah-perintah Tuhan dan menjauhi larangan-larangan Tuhan seperti yang telah diwahyukan dalam kitab suci setiap agama. Ketika orientasi ibadah, iman, dan takwa sudah terlaksana, secara bertautan dan berkesinambungan orientasi yang lain pun dapat dilaksanakan dengan kesadaran akhlak dan integritas yang tinggi. Dengan demikian terbentuklah kepribadian unggul karena penguasaan dan penerapan ipteks oleh peserta didik diaktualisasikan untuk kehidupan beragama. Aktualisasi ipteks dalam kehidupan beragama tentu saja melalui akidah (keyakinan dasar/pokok), etika, akhlak, ibadah, dan muamalah (kemasyarakatan).</p>
<h1>Strategi Cerdas Emosional</h1>
<p>Insan Indonesia yang cerdas emosionalnya berarti mampu mengaktualisasikan diri dalam olah rasa untuk meningkatkan sensitivitas dan apresiasivitas akan kehalusan dan keindahan seni dan budaya, serta berkompetensi untuk mengekspresikannya. Modal utama dalam aktualisasi ini adalah kualitas estetika yang bertumpu pada kegiatan apresiasi, persepsi, dan kreasi seni budaya.</p>
<p>Sesuai dengan kurikulum Pendidikan Seni di sekolah, peserta didik perlu memahami benar bahwa Pendidikan Seni memiliki sifat multilingual, multidimensional, dan multikultural. Bila sifat-sifat tersebut dihubungkan dengan strategi cerdas emosional, kegiatan kompetensi yang perlu dilakukan peserta didik dapat dijabarkan sebagai berikut:</p>
<ol>
<li>Berhubungan dengan Pendidikan Seni bersifat multidimensional, peserta didik perlu membudayakan kemampuan penyeimbangan fungsi otak kanan dan otak kiri (memadukan logika, kinestik etika, dan estetika) dengan cara:
<ol>
<li>menyerap langsung keindahan suatu karya seni melalui perasaan dan pancainderanya;</li>
<li>menyadari bahwa karya seni memiliki dimensi nilai yang bermanfaat bagi pengembangan kehidupan manusia;</li>
<li>berpartisipasi mencipta karya seni sesuai minat dan bakatnya dengan menerapkan nilai-nilai manfaatnya;</li>
</ol>
</li>
<li>Berhubungan dengan Pendidikan Seni bersifat multilingual, peserta didik perlu membudayakan kemampuan mengaktualisasikan diri dan mengekspresikan diri melalui keindahan seni yang diminatinya. Sesuai dengan kurikulum Pendidikan Seni di sekolah, peserta didik dihadapkan pada pilihan seni: Seni Rupa, Seni Musik, Seni Tari, dan Seni Teater. Pilihan lain yang sesuai dengan kurikulum Bahasa dan Sastra Indonesia adalah Seni Sastra. Pembudayaan aktualisasi dan ekspresi diri ini dapat dilaksanakan secara bertahap:
<ol>
<li>Tahap internal yaitu berekspresi seni atau menghasilkan karya seni hanya untuk kepentingan diri sendiri. Kecenderungan tahap ini adalah curahan hati atau curahan perasaan saja, misalnya: menggambar sesuatu di buku, menyanyi atau bermain musik untuk menghibur diri sendiri, ikut berlatih menari atau bermain teater untuk mengisi waktu luang, dan menulis puisi di buku catatan sendiri;</li>
<li>Tahap ekternal yaitu berekspresi seni atau menghasilkan karya seni untuk diperagakan kepada orang lain agar orang lain mengapresiasinya. Misalnya, berkarya seni untuk acara pameran seni atau pergelaran seni yang disaksikan oleh masyarakat luas;</li>
<li>Tahap profesional yaitu berekspresi seni atau menghasilkan karya seni untuk dijual kepada orang lain. Kecenderungan tahap ini adalah kecakapan hidup (life skill), karya seni yang dihasilkan dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan hidup. Misalnya, peserta didik dapat membuat lukisan, lagu, atau karya sastra (puisi/cerpen/naskah drama) kemudian dijual/dikirimkan ke penerbit surat kabar/majalah/tabloid yang sesuai. Bila dimuat, akan mendapatkan honorarium sebagai harga jual karya tersebut;</li>
</ol>
</li>
<li>Berhubungan dengan Pendidikan Seni bersifat multikultural, peserta didik perlu menumbuhkembangkan kesadaran dan apresiasi terhadap keragaman budaya Nusantara dan mancanegara, dengan membudayakan bersikap:
<ol>
<li>menghargai dan menghormati budaya orang lain/bangsa lain;</li>
<li>bertoleransi terhadap tradisi yang dikembangkan budaya orang lain/bangsa lain;</li>
<li>mengutamakan persamaan hak, kewajiban, dan perlakuan terhadap semua orang meskipun terdapat perbedaan tradisi dan budaya;</li>
<li>beradab dengan membiasakan berbudi pekerti baik, sopan, dan halus, sesuai dengan hakikat kesenian yang mengutamakan keindahan rasa (estetis);</li>
<li>hidup rukun dalam masyarakat dan budaya yang beragam;</li>
</ol>
</li>
</ol>
<h1>Strategi Cerdas Sosial</h1>
<p>Insan yang cerdas sosial adalah insan yang mampu beraktualisasi diri melalui interaksi sosial, supel, dan pandai menyesuaikan diri dengan lingkungan. Kegiatan yang perlu diterapkan dan dikembangkan oleh peserta didik dalam strategi ini adalah:</p>
<ol>
<li>membudayakan hubungan timbal balik yang positif dengan orang lain;</li>
<li>membudayakan sikap demokratis (mengutamakan persamaan hak, kewajiban, dan perilaku terhadap orang lain);</li>
<li>membudayakan sikap empatik (menghargai identitas dan keadaan perasaan/pikiran orang lain) dan simpatik (memiliki rasa kasih sayang kepada orang lain dengan turut serta merasakan perasaan orang lain tersebut);</li>
<li>menjunjung tinggi hak-hak asasi manusia dengan menyadari bahwa seluruh manusia diciptakan oleh Tuhan dengan kodrat dan fitrahnya yang sama di hadapan Tuhan, serta memiliki hak hidup yang sama;</li>
<li>membudayakan sikap percaya diri, ceria, dan ramah kepada orang lain, sehingga pergaulan menjadi menyenangkan dan kerukunan terbina;</li>
<li>menghargai keragaman dan perbedaan dalam pergaulan di sekolah, keluarga, dan masyarakat, sehingga tumbuh sikap toleransi dan tenggang rasa;</li>
<li>membudayakan wawasan kebangsaan dengan keutamaan kesadaran akan hak dan kewajiban warga negara;</li>
</ol>
<h1>Strategi Cerdas Intelektual</h1>
<p>Insan yang cerdas intelektual adalah insan yang mampu beraktualisasi diri melalui olah pikir untuk menguasai, menerapkan, dan mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi secara kritis, imajinatif, kreatif, produktif, dan inovatif. Kegiatan yang dapat dilaksanakan peserta didik untuk memperoleh kecerdasan intelektual dapat dijabarkan sebagai berikut:</p>
<ol>
<li>membudayakan kegiatan membaca berbagai ilmu pengetahuan dan teknologi;</li>
<li>membudayakan kegiatan menulis berdasarkan ilmu pengetahuan atau teknologi yang diminati dan dikuasainya;</li>
<li>membudayakan kegiatan presentasi dari hasil membaca dan tulisan yang disusunnya untuk didialogkan atau didiskusikan;</li>
<li>membudayakan pemanfaatan seluruh fasilitas dari yang berteknologi sederhana hingga berteknologi modern secara positif dan bertanggung jawab untuk pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi;</li>
<li>membudayakan penerapan ilmu pengetahuan dan teknologi yang diperolehnya dalam kehidupan sehari-hari, sehingga dirasakan benar-benar manfaatnya;</li>
<li>membudayakan pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi melalui praktik-praktik keilmiahan yang kreatif untuk menghasilkan media atau sarana yang manfaatnya dapat digunakan langsung oleh masyarakat dalam kehidupan sehari-hari;</li>
<li>membudayakan sikap inovatif dengan cara berusaha menemukan hal-hal yang baru dalam bidang ilmu pengetahuan dan teknologi demi pengembangan dan kemaslahatan kehidupan;</li>
</ol>
<h1>Strategi Cerdas Kinestetis</h1>
<p>Insan yang cerdas kinestetis adalah insan yang mampu mengaktualisasikan diri  menjadi insan adiraga melalui olah raga untuk menciptakan kesehatan, kebugaran, daya tahan tubuh, kesigapan,  keterampilan, dan ketrengginasan. Kegiatan yang dapat dilaksanakan peserta didik untuk memperoleh kecerdasan kinestetis dapat dijabarkan sebagai berikut:</p>
<ol>
<li>membudayakan olah raga ringan (jalan kaki, senam, dan jogging) sekurang-kurangnya satu kali dalam seminggu untuk melatih kerja otot dan jantung demi mencapai stamina tubuh, kesehatan, dan kebugaran;</li>
<li>memilih sekurang-kurangnya satu jenis olah raga permainan (bulu tangkis, tenis meja, tenis lapangan, dan sejenisnya) serta dilakukan sekurang-kurangnya dua kali dalam sebulan sebagai pengembangan olah raga ringan untuk rekreasi yang menyehatkan sekaligus melatih kesigapan dan ketrengginasan;</li>
</ol>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>Insan Indonesia yang Kompetitif</strong></p>
<p>Pada era globalisasi dan pasar bebas dengan ciri-ciri masyarakat industri yang unggul dalam memanfaatkan teknologi industri serta teknologi informasi dan komunikasi modern, sangatlah penting adanya kualitas sumber daya manusia Indonesia dengan kecerdasan komprehensif yang mampu mandiri dan bersaing dengan bangsa-bangsa lain. Persaingan antarbangsa semakin tinggi untuk mewujudkan masyarakat madani, yaitu masyarakat berperadaban tinggi dengan teknologinya, demokratis, taat dan konsekuen terhadap hukum dan perundang-undangan, melestarikan keseimbangan lingkungan, menjunjung tinggi hak asasi manusia, serta senantiasa berlandaskan keimanan dan ketakwaan kepada Tuhan Yang Mahaesa.</p>
<p>Oleh karena itu, untuk mempersiapkan diri dalam persaingan tersebut, peserta didik perlu memiliki strategi yang dapat dijabarkan sebagai berikut:</p>
<ol>
<li>membudayakan dan meningkatkan kepribadian unggul  dengan ciri utama mental dan spiritual yang kuat;</li>
<li>membudayakan dan meningkatkan semangat juang yang tinggi dan pantang menyerah untuk mencapai keunggulan, kedamaian, keadilan, dan kesejahteraan umat manusia;</li>
<li>membudayakan dan meningkatkan kemandirian sehingga tidak bergantung kepada pihak lain dalam mencapai keunggulan lahir dan batin;</li>
<li>membudayakan dan meningkatkan kemampuan untuk menjadi sumber daya manusia pembangun jaringan kegiatan positif untuk mencapai keunggulan lahir dan batin;</li>
<li>membudayakan dan meningkatkan kemampuan kreatif, produktif, dan inovatif demi kemaslahatan umat manusia;</li>
<li>membudayakan dan meningkatkan kesadaran akan kualitas dengan orientasi global;</li>
<li>membudayakan dan meningkatkan diri sebagai pembelajar sepanjang hayat untuk mencapai kesempurnaan hidup lahir dan batin.</li>
</ol>
<p>Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa untuk mencapai kualitas insan Indonesia yang cerdas komprehensif dan kompetitif, peserta didik perlu senantiasa membina, membudayakan, dan meningkatkan kompetensinya dan kecakapan hidupnya (life skill) di bidang ilmu pengetahuan, teknologi, seni dan budaya, serta diperkuat oleh kesehatan jasmani dan mental-spiritual yang tinggi dengan kesadaran hidup beragama, bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara yang tinggi pula.</p>
<p>Semoga uraian di atas dapat dilaksanakan secara nyata, khususnya oleh para peserta didik di sekolah dan bermanfaat untuk mewujudkan masa depan yang baik duniawi dan uhrawi. Amin.</p>
<p style="text-align:right;">(<strong>Ustadji Pantja Wibiarsa, Penulis adalah Guru SMP Negeri 23 Purworejo, Jawa Tengah</strong>)</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/ustadjipw.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/ustadjipw.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/ustadjipw.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/ustadjipw.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/ustadjipw.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/ustadjipw.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/ustadjipw.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/ustadjipw.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/ustadjipw.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/ustadjipw.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/ustadjipw.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/ustadjipw.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/ustadjipw.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/ustadjipw.wordpress.com/3/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ustadjipw.wordpress.com&amp;blog=8865519&amp;post=3&amp;subd=ustadjipw&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ustadjipw.wordpress.com/2009/08/04/strategi-peserta-didik-mewujudkan-kecerdasan-komprehensif-dan-kompetitif/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/80f2e60f6de9b88cd537419869163eb8?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">ustadjipw</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
